Khamzat Chimaev akan melakoni pertandingan gelar sebagai penantang melawan juara bertahan, Dricus Du Plessis, pada gelaran UFC 319.
Laga Chimaev versus DDP akan digelar di United Center, Chicago, Amerika Serikat, Minggu (17/8/2025) waktu Indonesia.
Petarung kelahiran Chechnya, Rusia itu disebut-sebut memiliki peluang besar untuk menjadi juara UFC.
Walaupun lawannya juga tidak mudah karena juga selalu tampil impresif dalam setiap pertarungan.
DDP bahkan sudah berhasil mempertahankan gelarnya dua kali dengan mengalahkan Israel Adesanya dan Sean Strickland.
Namun, Chimaev yang sudah sejak lama mengincar sabuk juara tentu tidak akan membuang peluang di depan mata.
Sayangnya, kemenangan Chimaev tidak diharapkan kali ini oleh mantan petarung UFC, Din Thomas.
Dia menyebut keberhasilan Chimaev dengan menjadi juara merupakan bencana di kelas menengah.
“Aku akan jujur padamu, jika Khamzat menang, itu sebenarnya bencana,” kata Din Thomas, dilansir BolaSport.com EssentiallySports.
“(Itu) karena kamu tidak bisa bilang bahwa sebagian dari dirimu tidak berpikir pertarungan ini mungkin tidak terjadi… Itu bukan karena Dricus,” kata Din Thomas.
“Beberapa dari mereka memang terbiasa tidak hadir… Tapi intinya, jika dia datang dan menang, apakah kita bisa mempercayainya untuk bertarung lagi?” ujarnya.
Ya, mantan petarung berusia 48 tahun itu menyebut tak ada yang menjamin Chimaev dapat meladeni penantang-penantang berikutnya.
Keraguan tersebut berdasar karena Chimaev yang sering membatalkan pertandingan karena alasan tidak profesional atau sakit.
Ya, Chimaev memang memiliki riwayat buruk jelang pertarungan usai beberapa pertarungannya batal karena dirinya menarik diri seperti saat dijadwalkan melawan Leon Edwards, Nate Diaz, hingga Robert Whittaker.
Din Thomas tak ingin melihat nasib kelas menengah sama seperti kelas berat setelah Jon Jones menolak bertarung melawan Tom Aspinall.
Chimaev dikhawatirkan menghambat persaingan menuju juara kelas menengah bagi para penantang.
“Itu karena kita butuh pergerakan. Saya benci ketika semuanya hanya statis. Ketika tidak ada pergerakan di divisi-divisi ini. Dan agar ada pergerakan di divisi-divisi ini, para juara harus bertarung,” ujarnya.
Meski begitu, Chimaev telah mengungkapkan bahwa metode latihan yang dia gunakan sebelumnya tidak efektif.
Penting bagi petarung berlatih, tetapi juga peduli dengan waktu pemulihannya yang baik.
Chimaev mengaku telah belajar dari pengalamannya dan kini mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap tubuhnya.
“Sekarang mereka membiarkan saya istirahat dan pulih dengan benar,” kata Chimaev dalam wawancara baru dengan Hustle.
“Dulu saya pergi ke gym dan berlatih sampai selesai. Tapi, akhirnya saya berakhir di rumah sakit seperti kali terakhir ketika saya dirawat di rumah sakit tiga kali berturut-turut dalam tiga minggu.”
“Sistem kekebalan tubuh saya menurun, saya sakit. Sekarang, saya menggunakan pendekatan yang lebih baik.”
“Saya bekerja dengan pelatih yang baik, yang telah melahirkan banyak juara dunia … Saya akan mengambil langkah besar ke depan,” ujar Khamzat Chimaev.






